Langsung ke konten utama

PEGANGAN PENGINJIL LINTAS BUDAYA: Kewajiban Kedua



Seorang Penginjil harus Memiliki Kemampuan Mengajarkan Alkitab.

Tugas pelayanan seorang penginjil lintas budaya ialah memberitakan dan mengajarkan  Firman Allah dalam konteks budaya yang dilayaninya.

 

Perlu ditegaskan pada bagian ini bahwa tugas seorang penginjil hanyalah memberitakan dan mengajarkan Firman Allah. Tugas ini janganlah ditambahi dengan tanggungjawab lainnya yang tidak Alkitabiah. Beberapa lembaga penginjilan dan gereja telah menciptakan metode-metode Penginjilan baru yang mengarah pada upaya mengkristenkan para pendengar pemberitaan mereka. Kita tidak memiliki dukungan yang kuat dari Alkitab terhadap usaha mengkristenkan orang lain.

Karena itu seorang penginjil lintas budaya harus memiliki pengetahuan Alkitab yang cukup serta kemampuan mengajarkan Alkitab yang memadai. Pengetahuan Alkitab dan kemampuan mengajar Alkitab yang memadai haruslah saling melengkapi karena itu kemampuan mengajarkan Alkitab juga sangat ditentukan oleh pengetahuan Alkitab.

Alkitab adalah guru yang baik, yang akan menolong pembacanya; menumbuhkembangkan kemampuan pembaca Alkitab untuk mengajarkan apa yang dibacanya kepada orang lain. Alkitab bukanlah buku magis yang dapat memberikan kekuatan magis kepada pembacanya (sang penginjil) melainkan Alkitab adalah Firman Allah yang dihidupkan oleh Roh Kudus didalam dan melalui iman orang percaya untuk melaksanakan maksud-maksud Allah bagi manusia.

Maksud-maksud Allah itu akan terjelaskan bagi manusia melalui proses pengajaran yang benar oleh seorang guru Injil atau penginjil yang memiliki pengetahuan Alkitab yang cukup.

  1. Pelatihan mengajar bagi seorang penginjil.
 Jika memungkinkan secara waktu, sebaiknya seorang penginjil mengikuti pelatihan mengajar Alkitab tingkat dasar. Lembaga-lembaga misi dan gereja menghabiskan jutaan rupiah setiap tahunnya untuk mendukung pelayanan penginjilan lintas budaya. Akan sangat tidak bermanfaat apabila para penginjil tidak sanggup mengajarkan Alkitab dengan baik karena kurangnya pelatihan guru yang mereka terima.


  1. Pelatihan mengajar informal.
 Pelatihan mengajar informal dapat berlangsung melalui pembagian tugas pelayanan dalam gereja yang memberi ruang lebih kepada pengerja untuk terlibat secara khusus dalam pelayanan mengajarkan Alkitab.

Para pemimpin sell grup misalnya adalah orang-orang awam yang terlatih melalui pengalaman pelayanan mereka. Karena itu seorang penginjil lintas budaya yang berasal dari gereja haruslah dilihat latarbelakang pelayanannya, mereka yang sudah memiliki pengalaman mengajar Alkitab hanya memerlukan sedikit pendidikan formal tambahan.

  1. Pelatihan mengajar formal.

Gereja dapat membuat program-program pelatihan mengajar bagi para pekerjanya. Program-program ini kemudian dapat digunakan oleh para calon penginjil lintas budaya untuk memperlengkapi diri mereka. Disamping gereja, lembaga-lembaga pendidikan Kristen juga memiliki program-program pelatihan mengajar.

Namun saya merekomendasikan kepada para calon penginjil ataupun penginjil yang hendak mengambil pelatihan mengajar agar mengikuti program pelatihan mengajar dari lembaga-lembaga pendidikan yang berorientasi pada penginjilan. Karena dengan demikian sang calon penginjil ataupun penginjil yang terlibat dalam pelatihan mengajar lembaga pendidikan tersebut akan terus diarahkan pada visi penginjilan dan setelah menyelesaikan pelatihannya nanti, ia tetap berada pada panggilan awalnya yaitu penginjilan lintas budaya.

Pada banyak kasus, setelah masa pelatihan itu selesai, para calon penginjil akan memilih profesi sebagai guru dan meninggalkan visi awal mereka yaitu penginjilan, hal ini sering disebabkan karena sistem / program pelatihan lembaga pendidikan yang tak berorientasi kepada penginjilan yang tidak mengarahkan para peserta kepada penginjilan.

  1. Tanggungjawab Gereja terhadap pelatihan mengajar bagi para Penginjil Lintas Budaya.
 Panggilan penginjilan lintas budaya diterima, dikembangkan dan didewasakan didalam dan melalui gereja. Karena itu gereja memiliki peranan penting dalam penginjilan lintas budaya. Gereja bertanggungjawab penuh terhadap seluruh proses diatas.
Gereja bertanggungjawab mengajarkan kebenaran Alkitab tentang penginjilan lintas budaya.
Gereja bertanggungjawab melatih secara khusus mereka yang menerima panggilan penginjilan lintas budaya.
Gereja bertanggungjawab mengutus dan mendukung pelayanan penginjilan lintas budaya.

Untuk dapat melaksanakan tanggungjawab ini gereja harus menciptakan program-program kerja yang dapat mengakomodir pelatihan penginjilan lintas budaya.
Gereja juga dapat bekerjasama dengan lembaga-lembaga Kristen yang memang secara khusus melatih para penginjil lintas budaya.

Namun demikian gereja harus selektif memilih partner pelayanan, jangan bekerja sama berdasarkan pertimbangan kuantitas atau popularitas. Ada lembaga-lembaga misi yang besar secara kuantitas dan cukup populer, namun telah melenceng dari visi penginjilannya. Bekerjasamalah dengan lembaga Kristen berdasarkan kualitasnya. Kekristenan kita telah diintervensi oleh modernisasi dunia sehingga kesuksesan kita tidak lagi dihitung secara kualitas tetapi berdasarkan angka-angka dan pandangan fisik yang berbobot rohani rendah, misalnya berapa jiwa yang telah menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruslamat, berapa gedung gereja yang telah dibangun, berapa desa yang telah dijangkau dan seterus.

Visi penginjilan lintas budaya janganlah disia-siakan dengan kerjasama pelayanan yang keliru karena beberapa lembaga Kristen yang berorientasi penginjilan telah meninggalkan visi awalnya yaitu melatih para penginjil lintas budaya untuk kemudian melatih guru Pendidikan Agama Kristen.

Dilihat dari popularitas kebutuhan, tidaklah keliru pengalihan orientasi ini tetapi melihat kepada penggenapan visi Allah yang melandasi pembentukan organisasi pelayanan maka lembaga-lembaga ini telah kehilangan arah yang ditetapkan Tuhan bagi mereka.
Gereja dan para calon penginjil haruslah cermat melihat dan memilih lembaga pendidikan yang hendak dimasuki.

Visi dan panggilan pelayanan kita akan terus berkembang tapi takan berubah.
Perkembangan-perkembangan visi akan berlangsung dalam pimpinan Roh Kudus namun perubahan visi mengakibatkan padamnya api Allah yang sebelumnya mengobarkan pribadi-pribadi penerima panggilan penginjilan.

Komentar