Pendahuluan Kepemimpinan Kristen sering kali terjebak dalam dua ekstrem yang tidak sehat. Di satu sisi, ada kepemimpinan yang terlalu keras dan legalistik, di mana kritik disampaikan seperti palu yang menghancurkan semangat. Di sisi lain, ada kepemimpinan yang takut akan konflik (pseudo-harmony), di mana teguran dihindari demi menjaga perasaan, namun akibatnya kesalahan terus dibiarkan dan pertumbuhan terhambat. Pemimpin Kristen dipanggil untuk menempuh "jalan ketiga": menyampaikan kebenaran dalam kasih ( $Efesus 4:15$ ). Kritik konstruktif dalam konteks ini adalah sebuah tindakan penebusan (redemptive act) yang bertujuan untuk memulihkan, bukan menjatuhkan; untuk membangun, bukan meruntuhkan. 1. Fondasi Teologis Kritik Konstruktif Sebelum seorang pemimpin membuka mulutnya untuk menegur, ia harus memiliki fondasi teologis yang benar mengenai mengapa kritik itu perlu dilakukan. A. Doktrin Manusia dan Dosa Setiap orang, termasuk pelayan Tuhan, memiliki "titik buta" ( ...
"Go out and train everyone you meet, far and near, in this way of life."