Dalam khazanah pelayanan, seringkali muncul dikotomi yang keliru: bahwa komunikasi yang "sopan" adalah komunikasi yang bertele-tele, sementara komunikasi yang "to the point" dianggap kasar atau tidak rohani. Sebagai alumni Sekolah Tinggi Teologi, kita memahami bahwa panggilan pelayanan menuntut integritas yang utuh—bukan hanya pada doktrin, tetapi juga pada cara kita menyampaikan pesan kepada umat. Pertanyaannya, apakah kesantunan harus mengorbankan ketajaman? Mendefinisikan Kesantunan dalam Konteks Pelayanan Kesantunan, atau politeness, bukanlah sekadar basa-basi atau penghalus kata-kata. Dalam ilmu komunikasi, kesantunan sering dipahami sebagai strategi untuk meminimalisir potensi konflik dan menjaga "wajah" (face-work) lawan bicara. Bagi seorang hamba Tuhan, kesantunan adalah cerminan dari karakter Kristus yang penuh kasih namun tetap berwibawa. Berkomunikasi secara to the point atau lugas bukanlah antitesis dari kesantunan. Justru, dalam banyak sit...
"Go out and train everyone you meet, far and near, in this way of life."